(Brainstorming) The Journal of Unexpected [Fiction]

Jurnal 01. Pasien Bermasalah dari Paviliun Teratai

Pagi yang cerah, Suster Evita berjalan sambil mendorong sebuah kursi roda menelusuri lorong Rumah Sakit Hati Baja gelisah. 

"Akhirnya terapi hari pertama ya? Semangat ya, Vit." Perawat-perawat lain yang kebetulan berpapasan dengannya memberinya senyum-senyum bersimpati. Begitu juga para dokter. Bahkan para petugas kebersihan!

"Pasti!" Suster Evita menyajikan senyum tercerahnya bagi orang-orang itu, satu demi satu, mengkhianati isi hatinya yang mendongkol setengah mati. Apalagi setelah lagi-lagi ia berpapasan lagi dengan dua perawat seniornya, Suster Anas dan Suster Thessa, "kembar dempet" yang nyaris tak bisa dipisahkan.

"Pagi Suster Evita. Bagaimana kabarnya? Baik?" sapa Suster Anas dengan gaya sok formal.

Suster Evita mengeluarkan "senyum Dharma Wanita-nya", mengangguk sopan, ikutan-ikutan berlagak resmi, lalu buru-buru berlalu. Cengkeramannya pada punggung kursi roda mengencang.

Suster Thessa menghadang jalannya, "Apapun yang terjadi, dihadapi saja ya. Ingat kan motto Rumah Sakit kita?" serunya dengan gaya ala trainer motivasi.

""Dengan Hati Baja, Kita Percaya, Kita Bisa!"" tegas Suster Evita sambil mengangkat kepalan tangan kanannya ala pejuang kemerdekaan. Dalam hati ia berharap bisa melayangkan kepalan tangannya pada sesuatu atau bahkan seseorang. Senyum di wajahnya terasa semakin kaku. 

"Sekali lagi!"

"DENGAN HATI BAJA! BISA! YES! YES! YES!" pekik Suster Evita nyaring sampai semua orang menoleh dan mengerutkan dahi kepadanya.

Dasar! Padahal, kalian berdua yang paling gigih menghindari tugas ini! Suster Evita menggerutu dalam hati setelah kedua suster itu akhirnya berlalu (sambil pura-pura tak mengenalnya setelah insiden yel-yel barusan).

Rumah sakit tempatnya berdinas kali ini adalah sebuah rumah sakit yang memusatkan perhatian bagi terapi disabilitas fisik. Intinya rumah sakit itu mengusahakan bagaimana orang-orang yang mengalami disabilitas fisik (catatan khusus:"cacat" adalah kata-kata yang sangat vulgar dan sebisa mungkin harus dihindari! Sedangkan istilah tuna daksa sendiri tidak begitu lazim)---dapat berlatih menghadapi segala keterbatasannya dan bisa menjalani kehidupannya di masyarakat secara (lebih) normal. Di sana para pasien ditempa dengan berbagai latihan dan terapi untuk menguatkan bagian tubuh mereka yang masih bisa berfungsi dengan baik. Kalau dalam bahasa Mario Teguh yang jadi idola Suster Thessa mungkin jadinya begini: "Semua orang pasti memiliki kekurangan. Namun, adalah pilihan Anda untuk menangisi kekurangan itu, atau bangkit dan memaksimalkan kelebihan Anda, untuk menutupi kekurangan itu dan menjadi pribadi yang super sekali."

Dengan menjalani berbagai terapi itu, diharapkan para pasien dengan disabilitas fisik bisa menyiapkan dirinya tidak saja secara fisik, melainkan juga mental, untuk menjalani kembali aktivitasnya di lingkungan bermasyarakat. Ngomong-ngomong rumah sakit itu terkenal memiliki disiplin yang tinggi dalam menempa para pasiennya. Latihan-latihannya sangat keras dan kebanyakan "alumni" yang selesai menjalani masa rehabilitasinya di sana mengaku bahwa orang-orang biasa tanpa disabilitas sekalipun mungkin takkan sanggup menjalaninya. Kebanyakan juga mengatakan walaupun mereka puas dengan hasilnya, mereka takkan mau kembali lagi untuk menjalani terapi fisik di sana (yah, lagipula buat apa, kecuali kembali hanya untuk check up periodik saja) Terdengar agak seram dan berlebihan? Yang jelas Rumah Sakit Hati Baja memiliki reputasi yang bagus dengan tingkat keberhasilan penanganan pasien di atas 90 persen sehingga menjadi rujukan bagi rumah sakit pusat penanganan pasien disabilitas senasional. Itu sesuai dengan motto Rumah Sakit Hati Baja: "Dengan Hati Baja, Kita Percaya, Kita Bisa!"

Dan pagi itu giliran Suster Evita bertugas mengurus seorang pasien di Paviliun Teratai menjalani terapi hari pertamanya. Pasien itu seorang lelaki korban dari "kecelakaan tak biasa" yang sudah dirawat di sana sejak tiga bulan yang lalu. Tapi gosip-gosip sudah banyak beredar di kalangan para perawat. Gosip-gosip yang tidak menyenangkan sebenarnya. Para perawat lalu berlomba-lomba menghindari jadwal untuk menangani pasien itu. Walaupun alasan para perawat itu biasanya terdengar "legit" (karena memang banyaknya pasien yang harus ditangani seringkali tak seimbang dengan jumlah staf yang ada), sebenarnya itu hal yang aneh bagi sebuah institusi pusat kesehatan (yang katanya) seprofesional Rumah Sakit Hati Baja. Tapi apapun bisa saja terjadi di muka bumi ini. Dan hati paling baja sekalipun pasti ada batasnya. Agaknya batas keteguhan hati para perawat di Rumah Sakit Hati Baja pada akhirnya secara misterius menjelma dalam bentuk seorang pasien bermasalah di Paviliun Teratai.

Akhirnya kepala perawat dengan jumawanya menjatuhkan eksekusi mempercayakan tanggung jawab itu pada tokoh utama kita kali ini: Suster Evita. Sebagai perawat paling muda dan paling junior (umur 24 tahun, baru lulus FRESH dari pendidikan keperawatan, dan masih single!), tak ada yang bisa dilakukan Suster Evita selain menerima titah tanggung jawab itu dengan hati baja, sesuai dengan nama rumah sakit tempatnya bertugas.

Suster Evita sendiri juga baru bertugas di RSHB sejak tiga bulan lalu, setelah dipindahkan dari rumah sakit pusat kota karena alasan tertentu. Suster Evita sendirilah yang mengajukan permohonan transfer itu. Ya, Suster Evita mulai dinas di RSHB di hari yang sama dengan masuknya pasien yang jadi "subyek gosip utama" itu.

"Anggap saja ini sudah takdir. Mungkin saja kalian berjodoh," kata Suster Kepala sambil menyerahkan jadwal terapi dan data-data pasien yang dimaksud kepadanya, saat briefing staf perawat pagi ini.

Semua perawat yang sedang di-briefing tergelak walaupun sang Suster Kepala mengatakan kalimat itu dengan ekspresi serius, tanpa nada humor sedikitpun.

"Suster Kepala, setelah ini saya mohon ijin berbicara sebentar. Empat mata." kata Suster Evita dengan wajah merah padam.

Suster Kepala hanya mengangguk ringan dan briefieng para perawat pagi itu selebihnya berlangsung cepat seperti biasa.

~~~~~OTL OTL OTL OTL OTL OTL~~~~~~

Suster Evita menunggu semua rekannya keluar dari ruangan sebelum akhirnya bertanya kepada Suster Kepala.

"Anu, maaf, Suster Kepala. Sebenarnya masalah pasien yang satu ini apa sih?"

Suster Kepala mengangkat satu alisnya. Alis yang sebelah kanan, "Apa maksudmu? Masalah Pak Dodit sama seperti semua pasien di sini. Dia tidak bisa berjalan. Karena kecelakaan. Sisanya bisa kamu baca di file."

Suster Evita buru-buru meralat ucapannya, "Bukan, bukan! Maksud saya, kenapa kok sepertinya semua orang menghindari Pak Dodit?" 

Suster Kepala menaikkan satu alisnya lagi. Kali ini yang sebelah kiri. Benar-benar bakat yang langka. "Lho? Jadi kamu belum dengar?"

"Belum dengar apa, Bu?" Suster Evita makin bingung.

"Soal insiden Pak Dodit yang baru-baru ini terjadi!"

"Insiden yang mana, Bu?" 

"Ckckck, bukan main!" Suster Kepala berdecak keheranan, "Memangnya selama ini kamu kemana saja Vita?"

"Anu, saya masih baru di sini kan. Awal-awal sampai di Rumah Sakit ini, fokus saya mengatur kepindahan, bolak-balik ke rumah sakit pusat untuk mengurus dokumen-dokumen untuk transfer, beradaptasi, orientasi awal, belum mencari kontrakan yang cocok. Setelah itu saya langsung diperbantukan di bagian pasien anak dan fisioterapi. Jadi tidak ada waktu untuk mendengarkan gosip." Suster Evita berusaha menekankan kata-katanya yang terakhir secara samar. Dia ingin menyiratkan bahwa sejak pertama kali tiba di rumah sakit ini pun dia sudah bekerja begitu keras, bahkan walaupun itu berarti dia telah banyak mengorbankan waktunya untuk berinteraksi sosial.

Suster Evita melanjutkan, "Lalu Suster kan tahu sendiri kalau setelah itu saya malah tertular virus cacar dari satu pasien anak-anak dan harus opname lebih dari dua minggu. Jadi..."

"Ya...ya...ya...saya tahu. Saya tahu..." Suster Kepala mengibaskan tangannya beberapa kali di depan Evita. Wajahnya cemberut. Mungkin dipikirnya, perawat profesional kok mudah kena penyakit. Apalagi di masa-masa awal di tempat kerja. Tapi perawat kan juga manusia, dan virus mana bisa membedakan mana yang perawat dan mana yang bukan.

"karena itu info yang saya dapatkan kurang update....TAPI...!" Suster Evita buru-buru menambahkan, "Saya tahu kalau Pak Dodit sebelumnya ada di bawah pengawasan Suster Healthy yang juga baru ditransfer ke rumah sakit ini..." Suster Evita lalu terdiam, baru menyadari sesuatu, "Oh ya, kenapa akhir-akhir ini saya jarang melihat Suster Healthy ya?"

Suster Kepala menghela nafas, melepaskan kacamata bingkai kotaknya, lalu memijit-mijit matanya.

"Saya pikir mungkin Suster Healthy ada sedikit urusan keluarga, tapi... Ah ya. Telepon saya juga tidak pernah diangkat..."

"Suster Healthy diberi cuti untuk menstabilkan emosinya setelah insiden itu," potong Suster Kepala cepat.

"Apa?!" Suster Evita terperangah. Otaknya langsung mengira-ngira apa yang sudah menimpa perawat yang nama panggilannya tak biasa itu. Saat Suster Healthy bertugas menangani Pak Dodit, dia harus diopname karena terinfeksi cacar akut.

"Suster Healthy shock berat. Setelah Pak Dodit menghantamkan kursi rodanya ke pintu keluar, dan menusukkan pecahan kaca ke kedua kakinya berkali-kali. Itu terjadi tepat di depan mata Suster Healthy," jawab Suster Kepala dingin.

"Hah?! Saya tidak salah dengar?" Suster Evita makin terperangah.

"Total tujuh jahitan yang harus diterima Pak Dodit setelah kejadian itu. Pihak rumah sakit sampai merasa perlu mendatangkan psikiater. Karena itu terapi rehabilitasi Pak Dodit terpaksa ditunda hingga saat ini."

Dan lemaslah Suster Evita.

 ~~~~~OTL OTL OTL OTL OTL OTL~~~~~~

Bersambung (semoga memang bisa melanjutkan, setidaknya sampai postingan berikutnya :p)



Author's note:

Nggak tahu kenapa tiba-tiba jadi pingin menuangkan ide yang muncul secara abstrak ini. Pakai gaya-gayaan ambil setting di rumah sakit lagi. Padahal sumpah mati, aku buta sama masalah kaya gini. Ide ini muncul mungkin karena akhir-akhir ini aku lagi mengikuti komik REAL karya Takehiko Inoue di internet. Itu manga tentang para lelaki disabilitas yang kemudian menjadi atlet bola basket kursi roda. Kilasan adegan pasien yang menabrakkan diri dengan kursi roda ke pintu kaca dan dengan sengaja menusukkan pecahan kaca ke kaki lumpuhnya juga sebenarnya diambil dari adegan komik itu (sekitar di volume kedua kalau nggak ketiga).

Ini komik REAL itu. Yang bikin mangaka yang bikin komik basket legendaris SLAM DUNK itu lho


Oh, nggak. Aku nggak berencana bikin cerita bola basket kursi roda sama sekali. Aku bahkan nggak tahu bagaimana cerita brainstorming ini akan berlanjut jadi seperti apa. Tapi setidaknya aku ingin menuangkan paragraf-paragraf yang terbayang di otakku sejak beberapa minggu yang lalu. Dengan begitu aku bisa lega. Karena itu aku ingin meneruskan tulisan ini setidaknya hingga postingan berikutnya. Ada dialog yang tiba-tiba terlintas, dan ingin aku tuangkan dengan segera karena rasanya begitu menghantuiku.

Dan rencananya dialog itu akan dimasukkan di sini dan postingan ini tidak ada sambungannya. Tapi karena aku ngantuk jadinya ya sudah.

Oh ya, aku sepenuhnya sadar kalau kalimat-kalimat yang kugunakan di atas sering panjang. Rasanya nggak kaya nulis fiksi. Ini pasti karena aku sedang mengerjakan terjemahan jurnal secara maraton sejak seminggu lalu...

Ngomong-ngomong semua nama yang ada di atas itu muncul begitu saja secara spontan waktu mengetik. Nama Suster Evita nggak diambil dari nama istri presiden Argentina di masa lalu yang sudah almarhum (Evita Peron Kereta Api). Tapi lebih dari main-main kata secara ngawur dari istilah "Vitamin-E". Proses koinisasinya begini:

Vitamin E ---> Vit-E = Vita-E---> Evita (*PINTER! Evita dirancang sebagai karakter yang cerah ceria. Seperti Vitamin E yang bisa menyegarkan sel-sel kulit dan rambut... *MAKIN PINTER!)

Sedangkan nama 2 suster senior yang bikin Evita keki, Suster Anas, dan Suster Thessa, gabungin aja dua nama itu, terus ganti huruf A di nama "Thessa" dengan I. Tebak istilah apa itu (*PINTER BANGET SEH YANG NULIS CERITA INI! Grrrr!)

Apalagi nama "Suster Healthy" (emangnya "Healthy" Tiana Rossa???) heyaaa... maafkan pengetahuan istilah medisku yang super minim. LHO? Iya, emang rencananya nama-nama tokoh di sini diambil dari istilah medis. Canggih gila kan? (hoek). Silakan berdoa agar aku nggak begitu desperate sampai bikin nama "Dokter Stetoskop", "Suster Infus", "Suster Ngesot", dan lain-lain -_-

Nama "Pak Dodit" juga...hwell...entah kenapa aku tiba-tiba teringat sama comic stand-up SUCI Season 4 Kompas TV itu =____=

Dan...Rumah Sakit Hati Baja... huh, no komen lah aku sama nama ini. Siapa sih yang nulis cerita ini? Heran aku =_=

Dan..sampai postingan berikutnya...

HORYAAA! Karakter yang memiliki prinsip bernada, "Walaupun tanpa kaki aku akan tetap jadi yang lebih cepat dari siapapun!!!"

Ketiga tokoh yang jadi pusat cerita komik REAL


Previous
Next Post »
Thanks for your comment

Google+ Followers