[CAT'S STORY] Good Signs in Starting 2015!

Halooo Readers. Here I'm again. Si Kucing yang suka nongkrong di atas atap dan mengawasi dunia di bawahnya. Hehehe...

Happy New Yeah. Semoga tahun ini kita menjadi lebih baik dan bisa menyelesaikan segala resolusi yang tertunda.

Akhir-akhir ini jujur saja aku merasa agak skeptis dengan hidupku. Semuanya berlangsung secara stagnan. Passion-ku lebih sering dikalahkan procrastinating, rasanya nyesek banget. Udah segede gini kok masih ababil aja. 

*****

Sedikit kilas balik, tahun 2014 akhirnya berhasil kulalui dengan susah payah dan selamat. Di awal tahun ada kejadian menyedihkan yang membuatku sakit selama berbulan-bulan.

Tahun 2014, selain sakit, aku masih belum bisa membebaskan diri dari status freelancer. FYI aja aku sekarang bekerja di sebuah agen penerjemah kecil yang target marketnya adalah mahasiswa. Sebagai mantan mahasiswa (yang baru lulus), aku tahu benar kalau kau tak bisa menguras kantong dan dompet mahasiswa terlalu banyak. HUAHAHAHA... Kecuali kalau tuh mahasiswa wirausaha dan sukses atau... anak koruptor PLAK!

Orangtuaku terus menyindirku. Mengatakan betapa sia-sianya aku kuliah lima setengah tahun lebih (hehehehe, karena sempat sakit di beberapa semester, akhirnya ya begitu deh. Penuh perjuangan) hanya untuk jadi pegawai freelancer orang yang bahkan bukan lulusan Bahasa Inggris sepertiku. Mereka merasa heran dengan kenyataan bahwa umumnya anak-anak Sastra Inggris berhasil mendapatkan pekerjaan dengan posisi dan gaji lumayan, sedangkan aku masih begini-begini saja.

Well, mungkin memang akunya saja yang terlalu santai. Kalau ditanya memang aku tidak begitu gencar mengirimkan surat lamaran seperti umumnya para mahasiswa yang baru lulus. Apa pasal? Masalah kesehatanku terutama. Selama masa kuliah dan dari awal hingga pertengahan beberapa kali aku tumbang. Iya kalau masih murid atau mahasiswa, sakit, tinggal ngasih surat ijin atau surat keterangan dokter. Lha kalau udah kerja di dunia profesional bagaimana?

Jadi kugunakan waktuku untuk freelance di rumah. Jadi tak terlalu menguras tenaga dan aku masih bisa melakukan hobiku berinternet mencari referensi dan menulis. Sekalian aku juga ingin memperkuat skill dan memperpanjang daftar portofolioku. Selama mahasiswa aku lebih fokus ke organisasi dan mengikuti berbagai lomba, bukannya kerja sambilan. Jadi begitulah. Kalian bisa belajar dari ceritaku.

Wajar saja sih kalau mereka jadi khawatir. Dan kalau sudah begitu seperti biasa para orangtua akan menggunakan jurus yang super mematikan sekaligus menyebalkan: MEMBANDINGKAN.

Yap, aku dibandingkan dengan siapa saja. Dengan sepupu, anak teman-teman ayahku, tetangga, dan tentu saja adikku sendiri. Sepertinya melihat Kakaknya yang begitu susah payah menjalani kuliah  S1 reguler (karena masalah kesehatan lho ya. IQ-ku normal tahu!), adikku memilih jalan yang berbeda sejak awal. Dia memilih masuk SMK, lalu melanjutkan ke program D1 sebuah akademi yang memang orientasinya mengarahkan siswa ke dunia kerja. Awal-awal aku sempat mencemooh (saking jengkelnya karena selalu dibandingkan), "Akademi semacam itu cuma mencetak buruh, tahu! Bisanya cuma kerja kayak mesin, tapi nggak bisa berkreasi!"

Aku tak biasanya menjadi angkuh. Kadang kearogananku hanya untuk mempertahankan diri. 

Sekarang adikku sudah bekerja di sebuah perusahaan penghasil alat musik tiup Jepang. Dengan gaji di atas tiga juta dan dia bahkan belum genap setahun bekerja serta menjadi pegawai tetap. Pencapaian yang luar biasa bagi anak D1 seperti dia. Kini orangtuaku punya sesuatu yang bisa dibanggakan lagi kalau mengikuti pertemuan keluarga atau reuni.

Tak apalah. Mungkin sudah masanya. Dari dulu yang dibanggakan orangtua di depan orang-orang selalu aku dengan segenap prestasi akademis, organisasi, dan penulisan. Sekarang waktunya adikku yang menikmati siraman sorotan lampu. 

Yang menyebalkan, kadang-kadang adikku ikutan menggodaku. Tentu saja aku marah besar tiap kali itu terjadi. Apa pasal? Adikku itu menonjol di akademi D1 dan mendapat pekerjaan dengan mengandalkan bidang bahasa Inggris. Dia dihormati kawan-kawan akademi dan disayang dosennya juga karena kemampuan bahasa Inggrisnya. Dan siapa yang mengajarinya bahasa Inggris di rumah kalau bukan aku?

Setiap ada PR dia selalu meminta bantuanku untuk mengoreksi. Di sela-sela kegiatan menerjemahkan, aku harus meluangkan waktu untuk mendampinginya membuat naskah-naskah drama. Aku juga yang melatihnya akting dan berbicara di depan umum dengan bahasa Inggris. Sekarang bayangkan, seandainya saat itu aku dapat pekerjaan tetap di luar kota misalnya. Mana bisa aku fokus mendampingi adikku selama kurang lebih setahun? Dan lalu dia menertawakanku karena aku cuma freelancer yang stigma umumnya adalah nyaris pengangguran???

Aku bukan orang yang suka perhitungan, tapi kalau itu terjadi, aku selalu membentaknya dan mengungkit hal itu. Dia protes, menganggapku nggak ikhlas. Dan aku bilang aku nggak ikhlas kalau dia nggak menghargaiku yang seorang kakak cuma karena hal-hal materialistis seperti ini. Dia pun bungkam. Tapi orangtuaku tetap saja membandingkan. Hahaha... Menang WO lah mereka XD

*****

Selama ini aku berusaha mengirimkan surat lamaran ke berbagai kantor penerbitan untuk menjadi editor. Sayang belum bersambut sampai sekarang. Kurasa, fakta bahwa orangtuaku tak henti-hentinya mengkhawatirkanku dan ingin aku kerja di dalam kota saja, menjadi faktor X yang sangat berpengaruh. Jadi kurasa bisa-bisa aku tak akan mendapatkan pekerjaan tetap kalau ngotot ingin kerja di luar. Duh... Seandainya saja aku tinggal di kota yang penerbitannya banyak seperti Bandung dan Yogyakarta.

Aku juga tidak lagi meneruskan studi bahasa Arabku di mahad. Ketinggalan pelajaran akibat perbedaan bobot kurikulum di mahad sini dan Palembang membuatku cukup kesulitan. Lagipula aku tiba-tiba kehilangan motivasi. Bukannya belajar untuk persiapan ujian tengah semester, aku malah mengejar kompetisi menulis di sana-sini. Bahkan ustadzahku setuju saat aku menyatakan mau berhenti. Katanya itu lebih baik daripada aku tetap di sana  tapi kehilangan fokus. 

Well, sebenarnya aku bilangnya bukan berhenti, tapi cuti. Agustus 2014 lalu aku sudah bilang mau kembali. Nyatanya, aku kehilangan energi pasca sakit itu. Hikmahnya adalah, setelah aku ikut mahad aku mendapat pekerjaan freelance serius pertamaku. Bossku adalah teman sekelasku sendiri. Sebenarnya malu juga sih. Abis dapat kerja, lalu langsung berhenti. Padahal, di tempat mahad itulah aku mendapat koneksi.

Habisnya, selain masalah motivasi, ortu terutama ayahku tak henti-hentinya bertanya apa yang mau kulakukan dengan Bahasa Arab itu. Mereka nggak tahu kalau tarif penerjemah bahasa Arab jauh lebih baik daripada tarif penerjemah bahasa Inggris. Namun, alasan itu nggak cukup kuat untuk membuatku bertahan di sana. Mereka juga menakut-nakutiku dengan masalah umur. Kalau aku tetap di mahad, aku harus meluangkan setidak waktu 2 tahun sampai lulus. Jadi selama itu aku tidak bisa mengambil pekerjaan tetap karena kelas reguler bagi para akhwat dimulai sejak pagi. Tidak ada kelas Sabtu-Minggu. Padahal, di Palembang ada. Cih.

Jadi aku berhenti. Dengan alasan untuk mencari pekerjaan. Beberapa teman sempat menggodaku dengan cara yang cukup nyelekit.

"Pilih dunia daripada akhirat?"

Yah itu tergantung dari caramu mendefinisikan dunia dan akhirat itu sendiri. Di sana aku dapat ilmu agama. Tapi ortuku nggak ridho selama aku nggak fokus untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Gimana coba?

Aku sempat mengikuti biro pencari pekerjaan. Kamu cukup bayar dua ratus ribu, masukin CV, dan biro itu akan mencarikan pekerjaan yang pas untukmu. Bullshit. Beberapa kali aku ditelpon oleh perusahaan finance  yang ternyata bermasalah. Sama sekali nggak ada yang sesuai minat dan bakatku padahal semua sudah tercantum jelas di CV. Katanya itu karena tes psikologiku yang agak beda. Aku termasuk orang yang harus bekerja di bidang yang sangat khusus. Misalnya pendidikan dan penerbitan. Sayangnya biro itu tidak menyediakan pekerjaan yang kuinginkan.

Aku penasaran dan ingin minta tes ulang. Tapi nggak boleh. Katanya percuma aku tes lagi kalau tes itu dilakukan saat aku belum mendapat pekerjaan. Kecuali aku udah dapat kerja, lalu keluar, lalu minta tes lagi. Hasilnya pasti beda. Begitu kilahnya. Bullshit banget nggak sih? Bukannya cara berpikir orang bisa berubah kapan pun? Keadaan emosi dan sebagainya yang bisa mempengaruhi tes. Bukan karena belum dapat pekerjaan. Bilang aja mereka nggak mau rugi dan nggak mau meluangkan waktu untuk mengulang tes.

Aku juga nggak  bisa minta uangku kembali. 

Aku mencoba ke jobfair. Itu benar-benar mimpi buruk buatku. Berbagai perusahaan menjejerkan lowongan pekerjaan yang tidak aku mengerti, tidak sesuai bidang, dan tidak aku inginkan. Rasanya benar-benar tidak berdaya. Mungkin akunya aja yang manja atau berharga diri terlalu tinggi. Karena selama ini semua pekerjaan yang aku lakukan adalah hasil tawaran dari koneksi (karena aku dinilai berpotensi). Bukan hasil "mengemis pekerjaan". Sigh... 

Dari jobfair itu aku mendapat satu panggilan. Sebuah tempat les yang berbasis agama nan kuat. Sayang tempatnya sangat jauh dari rumah. Aku ikut tes dan terbelalak, aku nggak dites dengan bidang keahlianku yaitu bahasa Inggris, tapi dites psikotes! Dengan soal yang lebih dari separuhnya hanya masalah logika serta hitung-hitungan. Bisa apa aku? Aku melamar jadi guru bahasa Inggris tapi dites dengan soal-soal hitungan.

Ironis. Aku dulu nggak masuk IPA demi menghindari Matematika, lalu masuk ke Sastra Inggris. Siapa sangka selulus dari Sastra Inggris aku tetap butuh Matematika untuk mendapat pekerjaan? 

******

Trauma. Rasanya aku nggak mau ikut jobfair dan mengikuti tes lagi. Aku ingin mendapat pekerjaan karena aku dianggap berpotensi menguasai bidangku. Apa itu semua bisa dilihat dari tes? Aku bisa menunjukkan setumpuk portofolio untuk memvalidasi klaim-klaim di CVku.

Selama mengisi waktu senggang, daripada stres aku menggeluti lagi bidang yang sudah lama kulupakan. Menggambar. Aku mengaktifkan akun DAku, dan mencoba mengikuti kontes kecil-kecilan. Hasilnya bisa kalian lihat di beberapa postingan lalu yang berlabel "Achievement". 

Tidak banyak memang. Tapi setidaknya aku jadi tahu bahwa kemampuan menggambar manualku masih layak dihargai orang lain. Saat aku mengatakan mungkin akan membuka commission, beberapa orang menyambut dengan semangat. Masih ada yang harus kupelajari sebelum aku benar-benar terjun di bidang ini.

http://harumikoto.deviantart.com/ Kalian bisa melihat portofolio karya-karya visualku di web di samping. Sebagian besar dibuat manual dengan pensil warna!

Lalu aku kembali menulis novel dan light novel. Sayangnya ketika aku keasyikan menulis, aku jadi nggak fokus menggambar. Akibatnya aku melewatkan beberapa kontes penting. Duh. Positifnya, tahun kemarin aku berhasil menyelesaikan light novel pertamaku! Selain itu aku dapat beberapa teman yang menyenangkan dari forum yang menggelar kontes light novel itu. Setidaknya pertengahan hingga akhir tahunku tak garing-garing amat. Masih ada yang kuhasilkan. Kalian bisa membaca novel itu di link di bawah ini. Aku mengikutsertakan naskahnya ke dalam Gramedia Writing Project 2. Vote ya kalau suka. Hehehe

Cover abal-abal yang kubuat untuk kontes tersebut hehehe



Sekarang aku tengah menunggu pengumuman tanggal 20 Januari 2015 dengan harap-harap cemas. Daripada aku kepikiran dan hanya diam menunggu dengan menyedihkan, kulanjutkan dan kuedit saja naskah-naskahku yang lain.

Satu berita bagus lagi, ada kemungkinan IQRO' akan difilmkan oleh salah satu PH besar! Masih ingat nggak? Aku pernah memosting cerita dan rancangan karakternya itu di sini untuk Buronan Film (cerita itu masuk 50 besar seleksi tahap 2). Walau nggak menang, seorang penulis skenario profesional menghubungiku via FB dan menanyakan soal kemungkinan cerita ini difilmkan. Tentu saja aku mau, apalagi dia menawarkan opsi bahwa skenario ini akan digarap dan disutradarai oleh sutradara yang kebetulan aku suka banget filmnya.

Masih belum ada kelanjutan sih. Masih taraf penjajakan. Doakan IQRO bisa ketemu jodohnya ya. Kalau ini terjadi, wow loncatan besar buat karirku. Sekaligus jawaban telak bagi semua yang menyangsikan kemampuan menulisku hehehe... Yah... bismillah...

Kemungkinan aku juga akan mendapat tawaran menjadi ilustrator kover bagi penerbitan lokal yang dikelola temanku. Sekarang tinggal bagaimana aku mengeksekusi idenya. Semua sudah ada di kepala. Tinggal dituangkan. Doakan juga ini bisa berjalan lancar. Mungkin nantinya aku akan belajar blogging yang bisa menghasilkan uang seperti kawanku. 

Ada begitu banyak kemungkinan. Aku masih muda, dan sekarang insyaallah lebih sehat. Hal yang patut disyukuri dan digunakan bukan?

*****

Satu kejutan lagi, tiga hari sebelum tahun baru, orangtuaku membelikanku sebuah kibor! Yamaha Gress, seri anyar, yang bisa merekam lagu, bahkan main sendiri (huhuhuhu). Kibor itu juga ada mode belajar mandiri yang sudah aku inginkan sejak aku SMA. Mungkin orangtuaku ingin menghibur dan menyemangatiku. Akhirnya aku dibelikan kibor baru. 

Kibor lamaku meleduk. Adaptornya korslet karena terendam air saat banjir dua tahun yang lalu. Asal tahu saja, kami nggak pernah ikut-ikutan tetangga buang sampah di sungai dan selokan. Tapi saat banjir, kami pun kena akibatnya. Banjir nggak bisa memilih mana rumah orang yang suka buang sampah sembarangan dan mana yang enggak.

Di tengah kehebohan menyelamatkan barang-barang, aku melupakan adaptor kiborku yang terletak di lantai. Rusak deh. Sedih.

Kini aku bisa mengasah bakat musikku lagi. Ayah sempat beberapa kali bilang mau memasukkan aku les di Yamaha. Tapi aku segan. Lulusan S1 Bahasa Inggris bukannya cari kerja malah sibuk les musik dengan uang orangtua. Duh. Kalau aku punya uang sendiri, selain naik haji bersama orangtua, aku ingin les musik lagi dengan serius.

******

Saat mengikuti GWP, aku senang karena mendapat kesempatan agar karyaku dispot oleh editor salah satu penerbitan buku terbesar itu. Selain itu banyak sekali orang-orang yang baru kutemui di internet tapi sudah begitu apresiatif dalam menilai naskah. Tidak hanya pujian, kritikan pun dengan senang hati mereka berikan.

Sayang ada satu pengalaman nggak enak. Salah seorang penulis yang katanya populer memusuhiku karena aku hanya memberi rating naskahnya 3 bintang. 3 BINTANG (rating tertinggi yang bisa diberikan untuk tiap naskah adalah 5 Bintang). Aku kan obyektif. Lagipula dua bintang lainnya kuberikan dalam bentuk kritikan tulus dan mendetail. Bagaimana menurutmu rasanya, harus membaca naskah-naskah yang kebetulan tak sesuai seleraku? Dalam jumlah banyak sekaligus. Dan tetap harus mengamatinya serta menemukan kelebihannya di samping memberikan kritik, agar tidak terlalu menyinggung?

Jujur aku sakit hati dibegitukan. Lebih takjub lagi setelah naskah-naskahku yang ratingnya empat lalu turun menjadi rating dua, begitu saja dalam satu malam. AMAZING. Sihir? Hacker? Atau seseorang membalas dendam tapi dengan pengecutnya membawa sekompi kawan?

Aku tak bunyi bukti. Hanya punya logika. Karena  semua itu terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Dengan susah payah aku berusaha menaikkan rating naskahku dengan promosi di berbagai forum dan meminta kawan-kawan yang apresiatif dengan kiprah kepenulisanku untuk memvote, tentu saja sesuai kata hati. Aku rela diberi rating rendah, tapi kau kasih tahu aku alasannya. Biar bisa aku perbaiki. 

Akhirnya ratingnya pun naik secara perlahan tapi pasti. Beruntung penulis ajaib macam itu hanya kutemukan satu di sana.

Sisanya adalah mereka yang benar-benar apresiatif dan bukan pagan pemuja rating serta bintang. Ada beberapa penulis yang dengan senang hati bertukar kunjungan denganku. Kami saling mengamati naskah dan memberikan kritik-saran. Kamu tahu, buat seorang pekerja seni itu, apresiasi bagaikan darah dan oksigen. Kami tak bisa hidup tanpa dua hal itu. Dan kami selalu rakus serta menginginkan hal itu lagi dan lagi.

Mungkin saat ini penikmat karya kami baru terbatas karena belum punya nama besar. Tapi justru pada saat itulah, satu apresiator setia saja akan membuat kami merasa begitu berarti. Kami merasa bahwa kami layak untuk hidup di dunia. Dan terus berkreasi walaupun hanya untuk menyenangkan para apresiator yang jumlahnya masih sangat terbatas.

Sesimpel itulah hidup kami.

Dan di awal bulan ini aku memetik buahnya. Aku termasuk dalam jajaran Top 10 penulis terpopuler untuk bulan ini. Tepatnya nomor 3. Salah satu naskahku sendiri jadi naskah terpopuler nomor 1! KEJUTAN!

Cold Ice Baby. Karyaku yang dengan ajaib naik ke peringkat satu. Aku juga bingung.
Karena jumlah voter dan komentator di sana masih sangat sedikit (kalau dibandingkan dengan para peraih Top 10 bulan lalu saat GWP2 masih berlangsung. Jadi ngitungnya gimana ya?
Memang tiap bulan skor akan direset. Jadi strategi yang bagus adalah... menulis cerita baru tiap bulan! AUH... LUPAKAN. Lebih baik aku meneruskan saja naskah-naskahku di sana.

Rank-ku nomor 3. Alhamdulillah :D

Tapi tentu saja itu belum membuktikan apa-apa. Pasalnya belum tentu naskah yang ranknya tinggi itu akan dilirik editor dan pembaca lain. Bisa jadi naskahnya bernilai tinggi karena kuposting tepat saat tahun baru. Saat liburan. Jadi orang-orang memiliki waktu senggang untuk membaca. Lagipula ini baru awal bulan, demi Tuhan. Baru juga enam hari di awal Januari. Kalau aku bisa bertahan di posisi itu terus sampai akhir bulan dan bahkan bulan berikutnya lagi, baru aku bisa nyengir selebar-lebarnya. 

Masuk Top 10 adalah langkah yang bagus. Orang biasanya akan penasaran dengan jajaran Top 10, dan dengan begitu traffic ke lapak pun jadi lebih banyak mweheehe... Aamiin. 

Lagipula bisa jadi votingnya tinggi karena unsur balas budi. Mereka yang naskahnya sudah kukunjungi dan kuberi rating bagus, lalu balik mengunjungi dan membalas rating, bahkan tanpa membaca naskah! (sigh, aku benci hal ini. Tapi ini kenyataannya).

Yah, yang jelas aku tetap harus bersyukur. Lagipula aku sudah bertemu dengan beberapa orang yang dengan tulus mau diajak saling mengamati naskah dengan detail. Sebenarnya itu yang paling kunikmati dari kompetisi ini. Peringkat itu bonus. Aku ingin menjalin persahabatan dengan lebih banyak rekan penulis yang tulus :D


Lucunya adalah, naskah yang jadi top rating itu malah bukan naskah andalanku. Temanya sci-fi, Bok! Butuh waktu lama untuk referensinya. Kurasa naskah ini naik karena ini naskah terbaruku saja. Semoga saja para pengunjung nanti sudi menengok naskahku yang lain. Yang posisi postingnya ada di bawah Cold Ice Baby, karena aku tak tahu kapan aku akan mengupdate karya yang satu ini.

Untuk saat ini, selain OTA-KATA, aku mengandalkan naskah Runeblood Saga: The Heir of Erilaz, dan Magic Shop Magic Butterfly. Karya-karya yang lainnya sih cuma syarat biar isi lapaknya nggak terlalu sepi.

cover abal-abal untuk cerita Runeblood Saga: The Heir of Erilaz di GWP 2

Kalian bisa membacanya di sini: http://gwp.co.id/rune-blood-saga-the-candidates-for-the-runes/
Prekuelnya Runeblood Saga: http://gwp.co.id/runeblood-saga-return-to-mannaz/

Kover abal-abal untuk cerita Magic Shop Magic Butterfly di GWP2


Kalian bisa membacanya di sini: http://gwp.co.id/magic-shop-magic-butterfly/

Kalau boleh memilih, daripada Cold Ice Baby, aku lebih berharap tiga naskah inilah yang masuk Top 10 hehehe. Soalnya nasib kelanjutannya udah jelas sih. Semua sudah ada di kepala. Tinggal dituangkan di layar saja. Kuharap pembaca Cold Ice Baby bersedia merambat ke bawah untuk mencapai naskah-naskahku lainnya yang butuh perhatian serta belaian kasih sayang (huahaha).

Sebagai catatan, aku perlu menggarisbawahi bahwa gambar-gambar di atas bukan hak ciptaku. Aku mengambilnya dari internet dan mengeditnya sedikit dengan photoshop. Hanya untuk keperluan hiasan kover di web. Kalau sudah selesai membereskan naskah, baru aku bisa menggambar sendiri ilustrasi dan juga kover bukuku.


Jadi itulah sekelumit kisahku dalam membuka tahun 2015 ini. CIAO.

Previous
Next Post »

2 komentar

Click here for komentar
March 23, 2015 at 5:09 AM ×

sakit apa?kebanyakan begadang hhahaaaw... aku inget wajah super ngantuk mbak Puput pas kali pertama kita ketemu.

ngomong2 tenkiu... dari sekian banyak saran kritik yg aku terima,saran mbak Puput masih yg paling ngena dan bisa di jalanin buat perbaikan. aku tipe orang praktek langsung yg pusing bahasa berat (IQ ku cuma 99 sih) jadi wajar cenderung cocok sama mbak Puput yg bahasanya simpel dan cenderung solusinya bisa di lakuin langsung. wakakakak nasib orang yg intelegensinya ndak tinggi macam aku :D

Reply
avatar
February 12, 2017 at 10:48 PM ×

Hahaha, bisa saja kau, Pop

Reply
avatar
Thanks for your comment

Google+ Followers