[CAT'S CONTEMPLATION] Anak-Anak. Benteng Terakhir Peradaban Bangsa

Pokoknya Imut


Sleeping Child. Judul lagu karya Michael Learns to Rock tentang kasih sayang dan perlindungan terhadap anak


Berawal dari ketidaksengajaan. Hari ini, saya mengklik beberapa berita link di media sosial untuk mencari referensi. Berita yang menarik perhatian saat itu adalah isu soal gay sticker di aplikasi Line. Hal yang sampai membuat AA Gym dengan tegas menyatakan ia langsung menguninstall aplikasi Line dari gadgetnya. Saya tertarik mencoba menelusuri siapa sebenarnya pembuat salah satu stiker imut bertema pasangan gay itu. Dua jenis stiker bertema pasangan gay yang dihebohkan di media ada dua (kita tidak tahu apa ada stiker lain yang belum terdeteksi pers). Tapi saya hanya tertarik untuk mencoba menelusuri salah satunya. Kenapa? Karena gambarnya dibuat dengan gaya kartun Jepang yang sangat imut! ARGH!


Dan karena imut itulah saya tidak akan menampilkan stiker itu di sini. Ntar diam-diam ada yang pingin punya lagi! Baaa...ke...kok!


Saya tadinya mengira pembuatnya adalah orang luar negeri. Nama pembuat stiker itu saya dapatkan dari laporan artikel media online yang mengutip laporan-laporan keresahan orang di sosial media. Beberapa kutipan  dari sosial media tersebut mencantumkan juga nama artisnya. Saya ketiklah nama artis pembuat stiker di Google. Saya masih mengira (dan berharap) pembuat stiker adalah orang luar negeri. Tapi page yang saya temukan dari Google langsung mengarah ke twitter dalam bahasa Indonesia. Sumber-sumber lain yang mencantumkan stiker-stiker buatan artis itu pun dalam bahasa Indonesia! Namun, pada page twitter dan penjualan stikernya saya tidak mendapatkan gambar stiker-stiker gay tersebut. Mungkin tersembunyi (dia ternyata sudah membuat dan menjual banyak sekali stiker, kebanyakan bertemakan pasangan cinta yang digambar dengan sangat unyu) atau memang sudah dihapus atas tuntutan masyarakat. Baguslah. Ternyata walaupun sekilas terlihat cuek dan skeptis, masyarakat bisa kompak juga kalau ada isu-isu yang riskan seperti ini.


Saya juga tidak akan mencantumkan nama artisnya di sini. Biarlah. Saya doakan saja dia agar ia nantinya bisa menggunakan bakat karunia Tuhan itu untuk hal-hal yang lebih konstruktif. 


Saya berpikir mengapa sang artis membuat stiker kontroversial tersebut? Sedangkan sepertinya tanpa membuat stiker gay pun stiker-stikernya yang lain sudah digemari. Dia tahu bagaimana tanggapan mayoritas masyarakat terhadap isu ini kan? Apakah dia mendapat pesanan dari orang? Atau dia diam-diam juga memiliki perhatian lebih terhadap isu LGBT?  Sudah bukan rahasia umum lagi kalau banyak kalangan seniman yang mendukung kelompok ini secara terang-terangan. Rasanya hati saya mencelos saat mendapati satu persatu artis visual design yang saya ikuti di Deviantart menggambar artwork yang menunjukkan dukungannya saat gegap gempita Gay Pride berderap tahun lalu. Sangat kekiniankah? Agar dianggap tolerankah? Entah. Artis kan nyeleneh, jadi nggak heran kalau mereka suka mendukung isu-isu nyentrik agar telihat lebih eksentrik. Walau nggak semua sih. Ada juga yang serius mendukung karena alasan tertentu. Yang lainnya pun serius menolak karena alasan tersendiri pula. Wallahualam. 


Sama Imutnya. Tapi Sama "Seremnya"


Nah, singkat cerita, dari stiker gay tersebut, saya akhirnya kesasar ke suatu page petisi. Ternyata isu yang sedang terangkat saat ini tak cuma stiker aplikasi Line yang bertema LGBT. Isu itu sudah dimulai setahun lalu dan akhirnya terangkat lagi karena yang jadi persoalan juga sama-sama stiker. Hanya saja tema-tema stiker kali ini adalah para pasangan heteroseksual. 


Lah, stiker pasangan LGBT diprotes, pasangan heteroseksual diprotes, lu jomblo ngenes ya, Sis?


Mungkin ada aja yang berpikir begitu. Tapi stiker-stiker bertema pasangan lelaki dan perempuan itu ternyata mengandung konten-konten dewasa seperti adegan tempel bibir, tempel pipi, hingga adegan nempel di satu kasur dan ranjang yang sama. Hiiih... Apalagi begitu gambar stiker-stiker bertema begitu dijejer jadi satu, double effect dah. Stiker sebanyak itu, temanya sama semua. Adegan yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh keluarga saya sejak kecil. Di bawah ini page petisinya. 




Yang menarik adalah, Mbak Gioveny Astaning Permana, gadis berhijab yang memulai petisi tersebut dengan jeli mengangkat isu Kebijakan yang Memegang Prinsip Hak Anak (Convention on the Rights of The Child's). Ia tidak membawa isu moral, adat ketimuran dan isu-isu yang berkaitan dengan orang dewasa lainnya. Jeli sekali. Kenapa jeli? Karena jika mengambil isu moral orang dewasa, kebanyakan orang hanya akan menganggapnya sebagai urusan masing-masing. 


Mau pacaran, mau sampai ke hal yang lebih jauh, asalkan tak di depan saya dan di rumah saya, ya itu urusan mereka. Urus saja moral sendiri.


Tapi begitu yang diangkat adalah isu terkait anak-anak, orang-orang langsung bereaksi. Terutama para orangtua. Karena di mata dan benak mereka, adegan-adegan yang diperankan para kartun unyu di stiker Line itu berubah... menjadi adegan yang diperankan oleh anak-anak mereka sendiri di masa depan nanti. Terbayang jelas bahwa anak-anak polos merekalah yang nanti akan berkasih-kasih dengan lawan jenis yang belum jadi haknya. Persis seperti stiker-stiker warna-warni yang imut-imut itu. Sudah merupakan naluri yang paling manusiawi untuk melindungi golongan yang lebih lemah. Anak-anak termasuk dalam golongan yang butuh perlindungan itu. Anak-anak berhati seputih kertas yang belum paham akan warna-warni dunia. Tergeraklah mereka untuk menekan tombol "tanda tangani petisi". Keegoisan individualistis pun pudar. Berganti menjadi kesadaran bersama untuk melindungi generasi penerus bangsa. 


Saya sendiri belum menikah dan belum memiliki anak. Tapi saya ikut menandatangani petisi tersebut karena saya resah. Saya menyukai dunia kartun dan menggambar. Gaya gambar para artis stiker tersebut sangat menarik buat saya. Tapi saya tidak suka dengan konsep yang ditampilkan dalam gaya gambar itu. Sebagai orang yang suka menggambar saya juga harus berhati-hati, mati-matian menahan godaan agar tidak meniru gambar-gambar tersebut. Karena referensi menggambar saya berkiblat dari gaya Jepang yang budaya dan kondisi sosial generasi mudanya ya... you know how lah... Begitulah. Saya ingin jadi orang baik. Tapi godaan yang ingin menggagalkan tujuan saya itu selalu saja ada selama saya masih bernapas di dunia. 


Tak jarang maksud hati membeli komik untuk dinikmati jalinan cerita dan gambarnya... eh nyelip-nyelip juga adegan servis kipas yang full daging. Biasanya untuk adegan komedi. Selera humor yang buruk. Ada masanya ketika dulu saya masih bisa tertawa dengan humor-humor semacam itu. Kini tidak lagi. Saya berusaha untuk tidak lagi tertawa.


Nggak usah jauh-jauh. Kita masih ingat Shin Chan kan? Shin Chan yang pernah menimbulkan kehebohan di kalangan orangtua karena ternyata kartun imut itu memuat konten yang sangat vulgar. Buat saya kalau artis atau penulis sudah jual daging bukan kekuatan cerita, berarti dia tidak pede. Begitulah. Saya resah. Saya belum punya anak. Tapi suatu hari nanti saya pasti akan diserahi juga amanah mendidik generasi penerus. Baik anak sendiri, ataupun anak orang lain (misal saya bisa jadi pengajar nanti). Saya takut. Sanggupkah saya menjadikan generasi berikutnya sebagai generasi yang tangguh dan siap dalam menghadapi dunia yang seringkali abu-abu? Bagaimana kalau nanti anak saya juga doyan baca komik atau nonton anime seperti saya. Bisakah mereka memfilter isinya? Agar tak tergiur dengan kartun-kartun yang bungkusnya imut tapi berkonten amit? Bisakah saya mengarahkan mereka untuk memilih produk yang aman untuk dinikmati? Saya ngeri. Semoga saat diserahi amanah itu, saya bisa menjalankannya dengan penuh kesadaran dan lebih tanggung jawab, Tidak selengekan seperti sekarang.


Kita Pelindung Anak-Anak atau justru Anak-Anak yang Melindungi Kita? 




Sleeping Child. Lirik lagu karya Michael Learns to Rock yang dengan indah menggambarkan kemauan orang dewasa untuk melindungi anak-anak. Gambar diambil dari www.boldomatic.com


Fenomena ini membuat saya berpikir. Selama masih ada anak-anak, mungkin manusia akan terus mengusahakan dunia yang lebih baik. Anak adalah benteng sekaligus senjata terakhir kita dalam memerangi hal-hal buruk. Selama masih ada mereka, kita akan selalu teringat bahwa dulu kita pun pernah sepolos mereka, sesuci mereka. Dan sama-sama tertatih dalam belajar menapaki serta memandang dunia. 


Saya jadi teringat satu game Final Fantasy. Final Fantasy XIII-3: Lightning's Return. Di situ diceritakan seluruh dunia mendekati kiamat. Manusia tak lagi bisa mati karena usia (kecuali jika dibunuh atau sakit), dan mereka berhenti menua, serta tak bisa lagi memiliki anak. Manusia tetap menjalani hari-harinya dengan bekerja, sembari menunggu dunia benar-benar berakhir. Saya sempat berpikir, bagaimana bisa "kemudaan abadi" dianggap sebagai penggambaran akan kiamat yang sebenarnya? Di zaman yang susah dan menyusahkan begini, keberadaan anak juga berarti bertambahnya beban populasi. Tapi adanya fenomena tergeraknya para orangtua mendukung petisi protes terhadap Line Sticker ini membuat saya sadar. Dunia membutuhkan anak-anak berjiwa murni. Lebih daripada membutuhkan kita, para orang dewasa yang seringnya sudah skeptis-apatis ini. Saya pun akhirnya sepakat dengan game tersebut. Kondisi dimana tak ada lagi anak-anak baru yang lahir juga bisa dibilang kiamat. Akan semakin kiamat jika yang terjadi anak-anak terus lahir, tapi kita hanya meninggalkan warisan kebusukan bagi mereka.


Mana yang Harus Dilawan? Stiker Dewasa di Line atau Sinetron Perusak Moral di TV?


Saya memang tak bisa berbuat banyak seperti Mbak Gio. Bahkan saat mengumumkan dukungan ini, ada saja yang mengajak berdebat. Seperti mengapa saya repot-repot mengurusi stiker Line bukannya sinetron perusak moral di TV. Jawabannya karena sinetron sudah banyak yang menghujat dan terlalu mainstream. Jawabannya adalah... karena ini isu baru yang bahkan tak sempat terpikirkan oleh saya sebelumnya. Saya tak menyangka bahwa usaha kaum perusak generasi sudah mengambil wujud yang dianggap paling sepele. Stiker untuk chatting di gadget! Lebih menyeramkan lagi, virus perusak generasi itu muncul dalam warna-warni imut bak kartun anak-anak yang bergentayangan di gadget-gadget. Saking "sepele"nya banyak yang tak sadar atau bahkan tak peduli. Buat saya ini sudah alarm. Kita sering cuek sama produk anak-anak. Asal imut, asal unyu, asal warna-warni cerah pasti dianggap pantas dikonsumsi anak. Ingat kasus Shin Chan dan sederet kartun-kartun dewasa lainnya.


Dan ini membandingkan "kasus sinetron lebih penting dikritisi daripada kasus stiker Line" itu buat saya konyol. Ini seperti membandingkan, mana yang lebih baik cepat ditangani, kanker mulut atau kanker otak? Buat saya apa pun jenis dan media penyebaran sel kanker perusaknya, kalau bisa lawan ya lawan! Ada yang bilang lebih banyak orang punya TV daripada gadget. Kata siapa? Tetangga saya yang masih anak-anak itu, tinggalnya di gubuk dekat suangai. Tapi setiap hari pegangannya sudah batu sabak elektrik hape touchscreen. Pengemis saja pada main hape waktu mengantri jatah zakat fitrah di masjid. Belum lagi anak-anak orang kaya yang sudah dibekali gadget oleh orangtuanya sejak dini. Apakah mereka lebih tidak penting dibandingakan anak-anak pinggiran yang katanya doyan nonton sinetron di TV itu? 


Seorang rekan dari agensi penerjemah tempat saya bekerja yang kebetulan membaca pengumuman dukungan petisi dan mungkin perdebatan dengan teman FB saya. Ia hanya memberikan komentar pendek yang menghentak kesadaran.

Penolakan itu nahi munkar.  Edukasi itu amar ma'ruf
Dua hal yang sama-sama perlu


Jika ada suatu keburukan dan kita tidak setuju, maka lawanlah dengan perbuatan. Jika tidak bisa, lawanlah dengan lisan. Dan selemah-lemahnya iman adalah tidak menyetujui dalam hati. Tapi bahkan diam-diam tidak menyetujui itu pun lebih baik daripada terang-terangan berkoar-koar mendukung hal yang buruk.


Ada juga yang membandingkan stiker Line dengan stiker gay di FB. Hayati mulai lelah... Logika beberapa orang sekarang tampaknya bukan, "Lawanlah keburukan sekuat yang kita mampu." tapi "Kalau nggak bisa melawan semua keburukan di dunia ini, ya nggak usah sok-sokan lawan. Diam saja."


Ngek.


Seandainya ada orang divonis terkena kanker dan dia dibilang hanya memiliki waktu beberapa bulan saja untuk menjalani sisa hidup, apakah kemudian kita akan berkata begini, "Nggak usah repot-repot pengobatan kemo, check up, herbal. Percuma. Toh ntar bakal mati juga."Ngapain kita susah-susah bernapas kalau gitu? Toh ntar juga bakalan mati. 


Semoga kita dihindarkan dari pikiran dan statemen tidak berguna yang mematikan logika dan nurani. Mengenai FB, nggak bisa menindak stiker LGBT di FB terus disuruh tutup akun? Lha kok enak? Wong dengan FB juga saya bisa mengikuti sepak terjang Peduli Sahabat yang getol mengampanyekan serta mendampingi para SSA (Same Sex Attraction) agar tetap STAY di jalan yang benar? Pendiri Peduli Sahabat itu, meskipun tahu pemilik Facebook mendukung LGBT, toh dia tetap menggunakan facebook untuk melakukan pendampingan bagi para SSA dan LGBT yang ingin STAY dan RETURN ke jalan yang benar. Banyak orang yang juga menggunakan Facebook untuk mengampanyekan penolakan terhadap LGBT. Strateginya kan menggunakan senjata mereka untuk melawan diri mereka sendiri. Siapa tahu kalau umat muslim di seluruh dunia yang jumlahnya jutaan ini terus mendoakan Zuckie dengan istiqomah, suatu saat dia akan diberi hidayah? Karena tujuan awal FB kan untuk koneksi dan komunikasi. Tujuan silaturrahmi gitu lho. Bukan buat kampanye Eljibiti. Bayangkan berapa banyak amal jariyah yang bisa diterima Zuckie. Ini saya ngetik sambil menyenandungkan lagu Kahitna "Andai Dia Tahu". 
Sekarang kalau dituker gimana? Gimana kalau mereka yang suka mendukung hal-hal yang dilarang agama itu nggak usah sekolah? Soalnya di sekolah ada matematika, sains, dan bidang-bidang lain yang sudah dikembangkan oleh para ilmuwan Islam terdahulu seperti Ibu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi. Atau bagaimana dengan oksigen, air, dan semua fasilitas yang kita nikmati sejak lahir ini? Ciptaan siapa coba? Saya heran dengan "kegigihan mereka". Dukung kemunkaran aja pakai riset lho. Sampai bawa-bawa Alan Turing lah, Apple-lah, apalah. Dan itu simply hanya agar kita menutup Facebook kita. 


Tapi kita kan beda dengan mereka. Kita nggak terus melarang mereka menikmati karunia Tuhan dan mengenyam pendidikan. Justru, dengan berpendidikan mereka jadi punya sarana untuk mencari kebenaran. Bukankah kita semua adalah umat yang diberi tenggat? Mbok ya o... siapa tahu mereka, orang-orang yang kita tentang itu kemudian sebelum di akhir hidupnya dapat hidayah dan malah jadi lebih baik daripada orang-orang yang tadinya mencaci mereka? 


***

Ini adalah ungkapan dukungan saya terhadap langkah Mbak Geo. Saya tahu saya sendiri tidak sempurna. Banyak isu-isu kebaikan yang belum bisa saya dukung secara nyata. Banyak juga isu-isu keburukan yang belum bisa saya lawan secara total. Sedih. Tapi saya ingin jadi baik. Dan karena ingin jadi baik, saya ingin membiasakan diri dengan kebaikan. Semoga di akhir, saya bisa mencapai ending yang benar-benar baik. Semoga apa yang saya tulis pada artikel ini dan postingan tersebut tidak membuat saya sombong. Semoga bukan untuk alasan riya' dan keren-kerenan. Saya hanya ingin melatih cara berpikir saya.


Saya bukan pengguna Line (untungnya), Tapi tanggapan masyarakat seringkali terlalu permisif terhadap hal-hal seperti ini hanya karena dikemas dalam konten yang imut. Saya rasa ada benarnya juga reaksi penolakan ini. Menunjukkan adanya self-defense mechanism dari pihak orang-orang yang masih peduli.

Walau hanya satu suara, setidaknya ini menunjukkan prinsip saya. Yang tidak sependapat ya silahkan. Kita sepakat untuk tidak sepakat.


https://www.change.org/p/indo-line-saring-sticker-line-yang-tidak-mendidik-anak?recruiter=74747242&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=autopublish&utm_term=des-lg-no_src-reason_msg&fb_ref=Default

Butuh sekitar 900-an lagi agar petisi tersebut dipenuhi. Saya lihat berbagai media cetak dan online pun ikut menandatangani petisi dan memuat berita dukungan terhadap langkah Mbaki Gioveny dan para pendukungnya. Semoga isu ini jadi awal yang baik untuk menggerakkan kesadaran kita semua akan nasib para calon generasi bangsa.


Dan... masih banyak lagi langkah-langkah kebaikan yang perlu kita dukung. Yuk dimulai dari diri sendiri. Mulailah dengan solusi dan menyentuh hati. Agar tak dihantui lagi oleh rasa benci.


Demi anak-anak kita.

Demi anak-anak saudara kita.


11 Februari 2016

Previous
Next Post »

3 komentar

Click here for komentar
June 27, 2016 at 7:11 PM ×

Halo Mas Mahbub XD Long time no see

Reply
avatar
Kepala Besar
admin
June 27, 2016 at 8:51 PM ×

iya put. long time no see, long time no blog visit as well. tulisannya semakin dewasa. suka.

Reply
avatar
Thanks for your comment

Google+ Followers