[CAT'S STORY] Troll Berkedok Kritikus


Salah satu teman FBku malam ini memposting soal keheranannya akan artis-artis (visual art drawers) yang seringkali mengabaikan kritik. Soal kritik, etika memberi dan menerima kritik, memang sudah sering dibahas terutama di kalangan artis (visual art painter/drawer). Aku jadi kepingin membahas masalah kritik ini berdasarkan sudut pandangku sebagai penikmat karya sastra dan seni visual (anime, manga, dan artworks di deviant art), sekaligus sebagai orang yang berkecimpung di bidang itu sendiri. Singkatnya ini adalah sudut pandang dari seorang apresiator sekaligus kreator.


Walau belum banyak, tapi beberapa karyaku sudah dimuat di media massa nasional. Cerpen-cerpenku sudah diterbitkan dalam beberapa antologi, dan aku pernah beberapa kali memenangkan lomba penulisan baik cerpen dan skenario film pendek. Soal perjalanan karyaku bisa ditelusuri di blog ini, dan aku masih terus melengkapinya. Beberapa karyaku bisa dibaca di gwp.co.id/author/gusti-a-p/ Selain menulis, aku juga menggambar dengan media pensil warna dan menggunakan gaya gambar manga (komik Jepang). Karya-karyaku bisa dilihat di www.harumikoto.deviantart.com. Kritik dan saran tentu saja selalu mewarnai perjalanan kreativitasku hingga kini. Dan aku patut bersyukur karena selama ini orang-orang yang mengritikku adalah orang-orang yang benar-benar kompeten. Mulai dari senior di dunia kepenulisan, dosen, penulis profesional, dan banyak lagi. Dari kritik aku belajar, dan dari kritik aku berkembang. Sekilas pandanganku soal pentingnya kritik bagi eksistensi karya bisa dibaca di tiga link di bawah ini:


http://gwp.co.id/altair/




Kritik memang penting. Kritik itu menghidupkan karya (dalam hal ini karya sastra), tanpanya sebuah karya hanyalah artifak atau benda mati yang tidak bergaung sama sekali. Karena itu, selain narsis biar eksis, orang yang mendalami bidang seni juga harus masokis. Siap menerima kritik, tahan mental, tahan banting, nggak pernah putus asa, dan selalu punya semangat belajar untuk memperbaiki diri. Namun, ada anekdot yang mengatakan, "Don't criticize artists! Their hearts are more fragile than glass!" Anekdot ini muncul karena kecenderungan beberapa orang yang katanya kurang cerdas dan kurang bijak dalam menanggapi kritik. "Dikasih kritik ngambek, marah, atau yang lebih parah, mutung. Padahal dia sendiri yang minta," itu contoh gerutuan yang sering dilontarkan teman-teman OLku.


Masalahnya adalah, sebagai orang seni apakah kita harus menampung SEMUA SUARA? Seringkali orang melupakan bahwa di balik akun-akun elektrik media sosial dan forum-forum internet, ada orang-orang di dunia nyata yang punya perasaan non-maya. Bisa gembira, sedih, dan marah juga. As an artist or author, these people working in creative field are often dealing with insecurities. Buat orang-orang seni,  apakah karya yang sudah dihasilkannya dengan susah payah akan diterima publik atau tidak, selalu menjadi kekhawatiran tersendiri. 


Pertama, bikin karya itu menyita waktu. Itu jelas. Kedua, menyita energi dan seluruh daya kreativitas (itu kalau berkaryanya memang serius). Ketiga, bisa jadi sampai membutuhkan modal uang segala. Berapa harga alat-alat melukis misalnya? Hitung juga berapa harga kertas, tinta, sampai listrik (kalau kita menggambar dan menulisnya pakai komputer). Nah, dengan memperhitungkan semua pengorbanan  di atas, jelas seorang artis atau penulis berharap mendapat tanggapan yang layak. Aku sering mengatakan bahwa apresiasi bagi orang-orang yang bergerak di bidang seni bagaikan darah dan oksigen. And we are never satisfied, we're greedy of it, and we always seek for more. Seorang rekan penulis bernama Mashdar Zainal bahkan sering mengatakan bahwa cerpen dan novel yang ia tulis itu layaknya seorang bayi. Disayang, diberi asupan gizi, dirawat, didandani sebelum dilepas ke depan publik. 


Tapi publik jelas tidak mau tahu soal itu. Mereka tidak merasakan darah dan air mata di balik karya-karya tersebut. Mau sampai artis dan penulisnya frustrasi sampai depresi pun, publik nggak peduli. Prinsip mereka, kami datang untuk menikmati karya. Mau karyamu kami terima atau kami lepeh, itu terserah kami. 


C'est La Vie, Dude. Voila.


Seni tak punya patokan. Baik-buruknya suatu karya sekali lagi tergantung oleh selera masing-masing peminatnya. Buat orang lain, karya Affandi itu avant garde. Buatku yang bukan penggemar lukisan abstrak, karya Basoeki Abdullah dan pelukis naturalis lainnya jelas lebih memikat. Kalau ditanya, karya sastra/seni yang baik itu seperti apa? Maka jawabannya bisa jadi "karya sastra/seni yang tidak jahat." Dan ini malah membingungkan. Ada yang bilang, "Karya yang baik adalah karya yang selesai." Lalu ada juga yang bilang, "Publish or Perish," selama karya kamu nggak diterbitkan atau dibuka ke depan khalayak untuk dinikmati secara luas, berarti karyamu belum bergaung sama sekali. Kalau berpatokan pada Wellek dan Warren, maka karya sastra/seni yang baik adalah karya yang dulce et utile. Menarik dan juga bermanfaat. 


Nah, menarik tidaknya suatu karya juga lebih relatif lagi patokannya.


It's not my cup of tea, kata para pemerhati karya. Sering kan mendapati tanggapan seperti itu baik di Goodreads, DeviantArt,etc. Tapi artis dan penulis bukanlah babu yang harus memuaskan dan mengisi cangkir teh semua orang. Semua karya pasti punya wilayah dan penggemarnya sendiri. Lagi-lagi itu kembali ke masalah selera. Selera sendiri juga ada stereotype-nya. Misal orang beranggapan kalau dangdut itu kampungan, sedangkan penggemar jazz jelas seleranya lebih berkelas. Lalu orang beranggapan kalau seseorang sudah khatam membaca seluruh karya Pramoedya Ananta Toer, maka dia pasti memiliki pemikiran sedahsyat sang penulis (jangankan mengkhatamkan, menenteng bukunya saja sudah bikin mata orang-orang membulat lebar). Sama juga dengan stigma bahwa penggemar komik, anime, manga  itu pasti kekanak-kanakan.


Seniman dan penulis hidup dari apresiasi penikmat karyanya. Tapi tidak semua orang bisa dipuaskan. Mengkhawatirkan hal-hal semacam itu akan membuat si seniman lebih frustrasi. Daripada begitu, lebih baik energi kekhawatirannya disalurkan dengan membuat karya sebaik mungkin. Kesungguhan dan ketulusan seorang seniman atau penulis bisa terlihat dari karya-karyanya.

******


Nggak semua omongan orang harus dimasukin ke hati. Itu betul. Misalnya ada orang gila meracau, masa ya didengerin? Perumpamaannya dari isu beras plastik. Pendapat mana yang lebih terpercaya, pendapatnya seorang ilmuwan yang benar-benar mendalami bidang uji material, atau pendapat para netizen yang seringkali nggak bisa membedakan mana hoax dan mana yang enggak?


Kritikus memang nggak harus bikin karya dengan media yang sama dengan karya yang dia kritik. Sering orang bilang, untuk jadi kritikus film, orang nggak perlu bisa bikin film. Itu benar. Namun, untuk menjadi kritikus jelas dituntut pengetahuan mendalam dan keluasan wawasan terhadap bidang yang ia kritisi. Itu kalau mau jadi kritikus beneran lho. Bukan kritikus abal-abal yang cuma cuap-cuap gaje di berbagai forum, sementara pas ditanya karya bisanya ngeles mulu. LOL. 


Nah, soal kritikus abal-abal yang omdo (omong doang), aku baru saja mengalami kejadian menarik. Menjelang akhir Mei 2015, aku bertemu dengan makhluk ajaib ini. Lihat nama akun yang dicetak tebal di bawah:




Awalnya aku posting thread di salah satu grup kepenulisan Light Novel di FB. Aku bertanya pada para member soal "apakah penulis light novel juga sering mendapatkan stigma sebagai otaku?" dan "bagaimana tanggapan mereka jika orang luar menstigma mereka sebagai otaku?"


Pertanyaan ini terkait dengan naskah yang sedang kukembangkan saat ini. OTA-KATA, The Way of Otaku. http://gwp.co.id/ota-kata-the-way-of-otaku/ Dalam blog ini, aku sudah sering memposting proses kreatif karya yang awalnya kutulis untuk meramaikan event ultah pertama komunitas OTCD (Otaku Creative Division) *sekarang namanya berubah jadi OCEAN Creative Circle. 


Nah, si Uki ini ceritanya nongol dan nimbrung di thread. Awalnya sih nimbrung biasa aja. Ketika aku memposting link OTA-KATA, perkembangan obrolan di thread jadi menuju ke arah yang "menarik". Bisa dilihat bahwa saat aku memposting link karya itu aku nggak berbicara dengan dia. Ada member yang bertanya apakah OTA-KATA ditulis hanya untuk penggemar Jejepangan atau juga untuk kalangan pembaca umum. Maka aku pun memposting link OTA-KATA di Gramedia Writing Project di kotak komen.




Baca cuma sinopsis doang udah pede mau ngasih banyak saran perbaikan? Sakti amat.


Tentu saja siapa pun yang nimbrung di thread bebas mengklik link cerita OTA-KATA. Termasuk si Uki. Nah, orang ini rupanya cuma membaca sinopsisnya saja, lalu langsung melontarkan kritikan. Intinya sinopsisku kurang menarik. 


Aku pun menanggapinya biasa aja. Aku menyiratkan," Baca dulu bab-babnya, baru komentar!" dalam jawabanku ke dia.


Karena aku yakin dengan kemampuanku menggubah karya ini. Beberapa responden dari grup OTCD sudah kutes tanggapannya terhadap cerita ini. Hasilnya? Not bad. Perlu diingat aku tadinya nggak kenal sama para member dan admin OTCD lho. Begitu aku bikin OTA-KATA, hubunganku dengan beberapa admin dan member aktif di forum itu langsung terjalin. They like it for real. Beberapa dari mereka menunggu lanjutan Season 2 dari cerita ini. Dan OTA-KATA bahkan terpilih sebagai cerita terfavorit bagi juri dalam event tersebut. Salah satu artis di grup tersebut bahkan tertarik untuk mengadaptasi ceritanya menjadi manga. Hal itu udah aku bahas di blog ini. Pencapaian OTA-KATA sudah menjadi justifikasi awal bahwa cerita ini layak dinikmati. Walau tentu masih banyak yang perlu diperbaiki agar karya ini bisa memiliki jangkauan yang lebih luas, juga siap untuk dilayangkan ke penerbitan.


Apa tanggapan si Uki ini?






Nggak hanya dia mencela sinopsis dan gaya penulisanku. Bahkan dia  mengatakan bahwa cerita ini sia-sia kalau diteruskan.  "Sangat konstruktif ya kritikannya."


Seumur-umur baru kali ini ada orang yang berani nyela gaya tulisanku. Kalau style nulisku bermasalah, kenapa karya-karyaku bisa dimuat di media nasional? Kenapa aku bisa memenangkan berbagai lomba? Bahkan dua dosenku yang berasal dari Sastra Indonesia pun mengapresiasi usahaku belajar menulis. Mereka yakin aku punya potensi. Seorang dari mereka bahkan mempercayakan skenario film pendeknya untuk kugarap. Tentu saja mereka tidak hanya memuji-mujiku. Ada banyak kritik konstruktif yang aku dapat dari mereka. Cara membuka cerita yang lebih menarik misalnya, keindahan diksi misalnya. Aku beruntung karena aku banyak dikelilingi orang-orang yang kompeten di bidang penulisan. Nggak hanya dosen, tapi juga para senior penulis yang udah pro. Nah, mereka yang kompeten saja bisa mengapresiasi kemampuanku dengan layak. Kalaupun ada kritik, mereka menunjukkannya dengan cara yang jelas dan santun.


Kalau dia menganggap light novelku terlalu banyak narasi atau deskripsi, lha itu kan memang buat membangun atmosfernya. Light Novel Jepang memang lebih didominasi oleh percakapan, tapi ternyata itu karena situasi dan kondisi orang Jepang yang sering terburu-buru serta harus melakukan banyak aktivitas dalam sehari. Rentang konsentrasi penikmat light novel tidak terlalu panjang untuk menikmati narasi yang terlalu mendayu. Tapi ini kan Indonesia, bukan Jepang. Di sini atmosfer kegiatannya nggak sepadat di sana. Orang masih punya waktu luang untuk bersantai dan membaca novel. Lagipula porsi narasi dan deskripsi OTA-KATA juga sudah dinilai responden cukup seimbang. Tak ada yang memprotes soal itu. Itulah akibatnya kalau buru-buru berkomentar hanya dengan berbekal pada sinopsis. 



Melihat lagak si Uki ini, nggak heran dong kalau aku jadi nanya, "Mana tulisanmu? Sini aku pelajari?"



Melihat dari bagaimana dia mencela tulisanku sedemikian rupa, logikanya tentu dia menganggap karyanya lebih baik kan? Coba mana? Aku pingin liat. 





Apakah dia kemudian memberikan link ceritanya dengan jumawa? Nope. Dia ngeles. Aneh. Ngritik dan nyela aja lancar. Ditanya mana karya malah mbulet. Dan akhirnya, dia bahkan memberikan tanggapan yang membuat alarm di kepalaku berdering keras:





Apa susahnya bilang nggak punya atau nggak bisa nulis karya? Sampai nantang-nantang mau nulis OTA-KATA dengan cara yang lebih menarik. Ditanya mana tulisan kok malah mau rewriting cerita orang. Logika kemana? Udah dilarang malah bawa-bawa ISBN. Lha berarti bisa disimpulkan kalau dia berpendapat, semua cerita di internet itu bisa disadur gitu aja. Bahkan walau nggak diizinkan sama yang punya. Semua itu dalam logika dia legal, selama belum ada ISBN. Ini sama aja kayak orang yang ngira bisa seenaknya pakai gambar dari internet cuma karena "dapatnya dari google kok".



Seorang anggota forum yang sama bahkan ikutan bereaksi terhadap niat Si Uki untuk me-rewrite karyaku walaupun tidak diizinkan. Uki malah mengira member tersebut sependapat dengannya. Logika? Mana logika???

Begitulah. Akhirnya si Uka-Uka ini kublock. Bukan karena kritikannya. Tapi lebih karena gelagatnya yang sangat mencurigakan. Tentu saja sebelum menanggapi si Uka-Uka ini aku melakukan pencarian lebih dulu. Siapa dia? Apa karyanya? Apa dia memang sehebat omongannya? Hasilnya?


None.


Dia memiliki beberapa akun di beberapa situs tempat orang-orang memajang karya seperti reoncomics,com, dan ngomik.com. Tapi akun-akunnya kosong tanpa karya. Data diri saja tak ada. 


Syahdan pada suatu ketika, ada seorang komikus senior dengan user name Kucing Kampung. Dia menulis review yang sangat pedas terhadap komik Tiap Detik yang baru terbit itu. Kucing Kampung ini pernah menerbitkan komik di penerbit yang sama. Dan komik itu mendapat penghargaan bronze medal dari suatu kompetisi internasional, bahkan sampai didistribusikan ke negeri jiran. Kebanyakan pembaca reviewnya salut, karena apa yang dia tulis dalam kritikannya itu benar adanya. Kebanyakan pembaca/pemerhati Tiap Detik merasakan hal yang sama dengan yang ditulis komikus tersebut. Intinya Kucing Kampung jelas dianggap kompeten untuk membuat kritikan terhadap komik.


Kemudian, datanglah seorang penggemar Tiap Detik yang tidak terima komik favoritnya dikritik sepedas itu. Dengan lugunya dia menantang sang komikus senior, "Masih mending ini terbit. Lha memangnya kamu sudah nerbitin karya???"


*facepalm...


Terakhir aku dengar kalau si penggemar lugu itu sudah menghapus komentarnya begitu tahu dengan siapa dia berhadapan.


Nah, aku jelas nggak mau mengalami kekonyolan serupa kan?


Sempat aku bertanya-tanya, memangnya Uki tuh siapa? Senior dunia penulisan? Ditanya karya kok ngeles. Waktu ngintip pertemanan di FBnya, beberapa artis profesional yang ada dalam list pertemananku juga ada dalam listnya. Makanya aku penasaran. Di komunitas tersebut, anggotanya tidak hanya mereka yang baru belajar menulis. Ada juga para senior yang sudah berkali-kali menerbitkan buku. Dan para senior itu pun nggak ada yang lagaknya sejumawa orang ini. Padi semakin berisi memang semakin merunduk ya. 


Aku tanya ke admin yang kebetulan kenal baik denganku. Dia juga nggak tahu siapa Uki ini. Bahkan dia bilang Uki sudah masuk daftar pengawasan karena komentar-komentar songongnya. So, lagi-lagi aku berhadapan dengan orang bermasalah. Untunglah bukan aku yang bermasalah. Tadinya aku sempat khawatir aku sudah jadi sombong sehingga nggak bisa nerima kritik keras. Nggak juga. Di website Gramedia Writing Project itu nggak ada karyaku yang bebas kritik. Semua disampaikan dengan santun. Jadi aku menanggapinya pun dengan senang hati. Hati ini tahu dong mana kritik yang tulus dan mana yang enggak.


Lalu sebelum memposting artikel ini, aku coba search lagi namanya. Ternyata dia punya akun tumblr berisi beberapa tulisannya. Lah, kenapa dia nggak memperlihatkan link itu dari awal? Aku coba baca beberapa tulisan. Hasilnya?


Biasa saja.


Beberapa ditulis rapi. Beberapa masih banyak typo. Tapi tak ada yang istimewa. Semuanya tulisan soal kejadian-kejadian yang dialaminya sehari-hari. Kejadian yang tak istimewa, yang diceritakan dengan cara yang tak istimewa juga. Kalau dibandingkan dengan tulisanku? Aku sih pede aja. Sekali lagi tergantung masalah selera. Tapi buat aku tulisannya itu tidak mencerminkan kejumawaannya dia saat mencela tulisanku. 


Terakhir, dia kuunblock untuk sementara agar aku bisa mengambil data print screen dari threadku yang dia ikuti. Ternyata dia bikin thread baru di grup. Apa isinya?




Anda sendiri yang menilai.


Ini pertama kalinya aku mencantumkan subyek tanpa disensor sama sekali di blog ini. Apa aku nggak takut kena ITE? Nggak. Karena pada dasarnya artikel ini adalah peringatan bagi pembacanya.  Kalau menemui orang dengan akun dan gambar kelinci di atas, sebaiknya kalian waspada saja. Bisa jadi dia akan merewrite tulisan-tulisan kalian dengan dalih "Kan belum ada ISBNnya."


Awalnya mengritik hanya untuk menjatuhkan (bahkan tanpa membaca karya secara lengkap), mengatakan bahwa karya itu tidak layak diteruskan. Agar apa? Agar dia sendiri yang meneruskan? Modus apa lagi ini? 


Mungkin seharusnya judul artikel ini diganti jadi "Plagiator Berkedok Kritikus", tapi masih belum ada bukti bahwa dia sudah merewrite tulisanku tanpa izin. Jadi biarlah. Kalau suatu saat dia mengeluarkan karya yang original, coba saja telaah sendiri apa karyanya itu memang layak terbit.



Yang jelas, mengritik tanpa etika dan basic ilmu hanya akan membuat Anda dilabeli sebagai OMDO (Omong Doang) dan NATO (No Action Talk Only). Bahkan bisa-bisa Remy Sylado, sastrawan veteran yang terkenal dengan Kembang Jepun, Ca Bau Kan, dan Kerudung Merah Kirmidzi itu pun akan ikut mencibir, "Memangnya kamu bisa bikin apa?"

*****

Update. Orang ini makin nggak punya muka aja. Setelah dikonfront sama beberapa tetua di grup pun lagaknya tetap aduhai. Pakai dalih "latihan teamwork" segala. Siapa yang mau satu tim sama troll??? 


Troll yang dari gelagatnya mungkin berniat plagiat pula. Dan dia mengakui kalau memang berniat rewrite tulisanku. Padahal ide OTA-KATA yang di GWP kan cuma kutuangkan seperdelapannya aja.  Logika? Mana logika?




Begonya lagi dia bermaksud mengolok-olok harga diriku dengan mengatakan, "Cuma cewek yang...blablablablab..." Lah, aku kan memang cewek? Orang ini parah banget. Ngajak ngetroll kok nggak nyelidikin lawan bicaranya. Huahahaha... Aku jadi pingin tahu reaksi dan tindakan para tetua di grup itu melihat ulahnya yang semakin menjadi itu. 


Sialnya, sistem FB nggak memperbolehkan dirimu untuk ngeblok orang yang sama dua kali. Kudu nunggu 48 jam baru bisa. Duh. Sabar aja deh, Buk. 



Previous
Next Post »

7 komentar

Click here for komentar
Ara AnggARA
admin
June 6, 2015 at 7:09 AM ×

Ah yang lagi terkenal di grup

saya sih males nanggapinnya.

orang kayak gitu sama kayak pembuat onar yang sebelum-sebelumnya muncul.
Daripada emosi ya saya sekarang udah nggak mau lagi nanngapin yang kayak gitu... hanya membaca apa yang aku suka dan aku ingin.

membantu anak baru yang baru aja masuk dan sering tanya-tanya juga kalau emang sempet.

Reply
avatar
June 7, 2015 at 2:38 PM ×

Hai. Ini Ara yang di LiNE?

Well, gimana ya. Soalnya dia udah personal attack ke aku sih. But thanks, aku nggak nyangka anak-anak LiNE terutama para admin kebanyakan mendukung dan membelaku. Bagaimanapun dia duluan yang cari masalah.

Reply
avatar
Ara AnggARA
admin
June 10, 2015 at 10:52 PM ×

yup ini Ara

ya, ane juga bakal bela... sedikit panas sih pas dia bilang mau rewrite cerita...
itu orang dah nunjukin banget kalo plagiat

Reply
avatar
June 28, 2015 at 3:53 AM ×

Haha thanks :) Aku sih ga yakin dia sanggup rewrite cerita siapapun dengan gaya tulisannya yang sangat membosankan :)

Toh akhirnya troll ini ditendang dari grup. Finally!

Reply
avatar
Ara AnggARA
admin
July 15, 2015 at 11:43 AM ×

iya
akhirnya keluar juga

padahal saya udah minta dia ditendang sejak lama loh

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:47 PM ×

Yah, semoga ke depan LiNE lebih damai dan anggotanya tetap produktif dan terus bikin kegiatan-kegiatan positif :D

Reply
avatar
July 28, 2015 at 1:51 PM ×

oh ya, mohon maaf lahir batin ya :3

Reply
avatar
Thanks for your comment

Google+ Followers