[CAT'S STORY] Kekangenan yang Canggung


"Kangen..."

"Ketemuan yok?"


"..."


Kangen, ungkapan yang menggambarkan kerinduan pada orang-orang tertentu atas dasar kenangan di masa lalu. Cara untuk mengobati rasa kangen ya, bertemu langsung dengan obyek yang dikangeni. Tapi...


Bagaimana kalau rasa kangen itu bertepuk sebelah tangan?

Bagaimana kalau kenangan berharga itu hanya berharga bagi kita?

Bagaimana kalau orang yang kita kangenin, tidak merasakan kesan apa pun terhadap kita?

Bagaimana kalau... walau orang yang kita kangenin merasakan hal yang sama, ketika ketemu malah awkward karena semuanya sudah terasa berbeda? Karena waktu sudah begitu lama berlalu sejak terakhir kali bertemu...

Bagaimana kalau, kecanggungan itu justru menodai kenangan indah yang sudah lama berlalu? Karena kenangan terbaru malah tidak semenyenangkan kenangan yang dulu?

Bagaimana kalau... saat bertemu kami kehabisan topik pembicaraan dan akhirnya menjadi... canggung?


Orang sering menganggapku ceria, lucu, unik (atau malah aneh),spontan, tapi aslinya aku adalah orang yang canggung. Jarang yang tahu bahwa, butuh cadangan energi yang begitu banyak agar bisa tampil tetap cerah-ceria di depan umum. Setelah momen berlalu dan pulang ke rumah, kembali pada kesoliteran, aku pun kehabisan tenaga. Bisa jadi aku akan mengurung diri di kamar dan lebih menyibukkan diri pada rutinitas kerja dalam waktu yang lama, sebelum merasa benar-benar siap untuk keluar lagi.


Terakhir kali waktu bertukar pikiran dengan temanku dari FLP Malang, Maulida (alias Molly, alias Ida), dia mengatakan, "Kayaknya dirimu itu aslinya ekstrovert deh. Bukan introvert."


Maulida aslinya dari Kalimantan (Banjarmasin), tapi menyelesaikan pendidikannya di Malang. Setelah lulus, ia pun kembali ke tanah airnya. Atas dasar kangen jugalah, Maulida kembali ke Malang dan bernostalgia selama seminggu. Sebelum dia pulang, aku menemaninya untuk mengoleksi memori. Percakapan itu pun terjadi di Kafe Pustaka, Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Ngomong-ngomong, aku biasa memanggil Maulida sebagai "Molly". Tapi di blog ini aku lebih memilih untuk menulis nama "Maulida".


Aku tersenyum setelah sebelumnya tercenung, "Iya,  tapi dari kecil, lingkungan "mendidikku" jadi introvert..."


Maulida cuma mengangguk-angguk. Lalu kami membicarakan hal lain. Maulida pun bercerita padaku bahwa berat baginya untuk kembali ke Kalimantan. Terlalu banyak kenangan yang menahan. Tapi mau nggak pulang juga bagaimana? Pekerjaannya sudah menanti di sana.


"Aku nangis lho waktu bingung mau pulang atau enggak. Daripada galau terus, lebih baik aku cepat-cepat pulang..." kisahnya padaku.


Dan aku jadi tahu bahwa Maulida yang dari luar terlihat ekstrovert pun menyimpan gejolak melankolis tersendiri di hatinya. Orang memang selalu dipenuhi dengan kontras-kontras kepribadian. Dan itu yang bikin setiap manusia menjadi individu yang unik serta menarik. 


Sebelumnya, saat kami pertama kali berjanji bertemu di Taman Trunojoyo dekat Stasiun Kotabaru Malang, aku mengatakan padanya, "Sebenarnya aku agak ragu ketemu berdua saja sekarang. Aku selalu takut kalau ketemu teman lama. Takut canggung."


Maulida lekas menjawab, "Kalau sama anak-anak FLP Malang, aku nggak pernah canggung, Mbak."


Aku tersenyum, dan dalam hati menjawab, 'Good for you. Isi otak dan hatiku memang aneh...' 


Karena kecanggunganku tidak mengenal waktu dan orang. Bisa terjadi kapan saja. Bahkan walaupun aku sudah mengenal orang-orang tertentu dengan baik. Jeda interaksi beberapa lama saja, sudah cukup untuk membuatku kembali bersikap canggung. Jujur, aku tersiksa dengan sifat ini. Sisi ekstrovert dan introvertku selalu tarik-menarik. Tak pernah isi hati dan kepalaku sunyi dari berbagai pertentangan. 


Tapi untunglah hari itu kami sama sekali nggak mengalami episode canggung. Perjalanan kami, percakapan kami, mengalir dengan alami. Thanks for Aini, teman FLP Malang juga yang kemudian bergabung dengan kami setelah kebetulan bertemu di Kafe Pustaka. Aini langsung berlaku sebagai guide  yang menunjukkan rute tempat-tempat yang ingin kami datangi untuk menghabiskan waktu saat itu: Taman Merbabu dan Hutan Malabar. Terakhir ke Mushola di belakang Museum Brawijaya.


Navigasiku sangat parah. Walaupun aku pernah datang ke suatu tempat dan tahu dimana keberadaan tempat itu, tapi kalau tak mengunjunginya secara rutin, aku pasti bingung kalau diminta menunjukkan rute ke sana. Bayangkan kalau nggak ada Aini. Nyasar kan nggak asyik banget. Walaupun kalau jalan bareng Aini artinya kami dididik menjadi prajurit infantri berkaki baja. Karena Aini ini pejalan kaki sejati! 


Tapi alhamdulillah, aku merasa diselamatkan Tuhan, saat Aini tiba-tiba datang dan bergabung, serta menemani kami sampai maghrib. Ah Aini... semoga Tuhan menjauhkanmu dari rasa sepi, canggung, dan kegalauan. Semoga keberadaan dan kehadiranmu selalu bermanfaat, baik bagi dirimu maupun bagi orang lain. Episode Mengoleksi Memori hari itu pun berjalan baik :) *walau setelahnya kaki njarem. Tak apalah. Sekali-sekali olahraga :)


---0000----

Rasa canggung sering membuatku untuk ragu mendatangi "wilayah teritorial" seseorang. Terutama rumah. Bahkan walaupun itu rumah teman baik. Aku selalu ragu apakah orangtua temanku bisa menerimaku bertamu di rumahnya. Apakah sikapku tidak salah di depannya. Dan kalau pun pertemuan pertama berjalan lancar, apakah itu bisa terjadi untuk pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya?


Gara-gara ini, kuakui aku jarang bersilaturahmi. Kalau didaftar, sebenarnya ada banyak orang yang ingin kutemui. Guru SMA, Dosen kuliah, teman lama, saudara, dan sebagainya. Tapi... kecanggungan selalu membuatku urung berkunjung. Kecuali jika ada satu-dua teman yang menyertai. Maka aku bisa dengan yakin mengatasi ketakutanku akan rasa canggung. Akibatnya aku selalu merasa kehilangan banyak kesempatan untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain.


"Bagaimana kalau kehabisan topik pembicaraan dan akhirnya aku dianggap orang aneh?"


Salah satu ketakutan terbesar di atas membuatku berusaha selalu mencari topik, melemparkan jokes, berusaha menanggapi pembicaraan lawan dengan lebih antusias, merespon secara cepat. Pikiranku selalu berputar keras untuk mengisi jeda kekosongan... Dan setelahnya aku akan merasa lelah luar biasa. Sering aku ingin menangis hanya karena kehabisan energi setelah bersosialisasi. 


Kenapa rasanya aku seperti berusaha terlalu keras (padahal kenyataannya mungkin nggak seheboh itu). Karena tuntutan sosial menuntut kita untuk selalu-selalu-dan selalu ceria.


Bukankah begitu? 


Kebanyakan teman-teman yang kukenal baik sampai sekarang, terkesan padaku karena keceriaan yang kuperlihatkan kepada mereka. Karena saat itu di mata mereka aku terlihat begitu lincah, energik. Sisi yang kuperlihatkan pada mereka adalah sisi ekstrovertku. Namun, sisi ini seringkali tiba-tiba menghilang, justru saat aku sedang butuh energi untuk menghadapi orang lain. Di sisi lain, kalau sang ekstrovert telalu lama mendominasi, aku jadi lebih ceroboh dan mungkin tidak terlalu peka dengan perasaan orang lain. Ujung-ujungnya, ketika si Ekstrovert pergi, sang Introvert akan muncul dan mengevaluasi. Tentu saja mengritisi dengan tajam perilakuku selama menjadi Ekstrovert. Pada akhirnya aku hanya ingin mengubur diri dan menyesali semuanya.


Belakangan aku berusaha menikmati kecanggunganku. Ketika aku tak punya topik pembicaraan, maka aku akan diam dan berusaha keras menghilangkan perasaan bersalah karena sudah menciptakan suasana diam yang canggung. Aku berusaha berpikir bahwa semua akan baik-baik saja walaupun aku tak terlalu banyak bicara. Lambat laun aku mulai berdamai dengan perasaan sunyi di hati. Kadang aku merasa sunyi ketika bersama orang lain, tapi aku menikmati perasaan itu. Karena pada saat seperti itu biasanya aku jadi merenung, lebih mawas, dan bisa introspeksi akan banyak hal. Hingga hening pun tercipta di tengah sunyi.


Dunia tak harus selalu diisi dengan hiruk-pikuk...

Previous
Next Post »

4 komentar

Click here for komentar
Maceloda
admin
September 20, 2015 at 2:01 AM ×

Saya kok tak merasakan kecanggungan embak ya -_-. Apa karena itu dalam hati embak jadinya aku nggak merasa XD. Ato jangan2 saya yang terlihat canggung. Asli mbak, seharian itu kan aku galau mo balik. Sejujurnya

Reply
avatar
September 20, 2015 at 2:34 AM ×

Soalnya dirimu nggak canggung, Mol :) Dirimu menanggapiku dengan wajar. Jadi aku bisa luwes, dan merasa lega :) Adanya Aini juga membantuku mengatasi perasaan itu xD

Itu hari yang menyenangkan kok, Mol. Jauh melebihi ekspektasiku :)

Reply
avatar
April 28, 2017 at 7:24 PM ×

Semoga bisa segera mengatasinya dan selalu dikuatkan ya :)

Seenggaknya semoga orang-orang di sekitar membantu mengatasi kecanggungan itu :)

Reply
avatar
Thanks for your comment

Google+ Followers