Brainstorming: Pelukis Angin

 Belakangan ini, daripada nulis cerpen langsung jadi, aku lebih suka menulis potongan-potongan cerita seperti yang ini. Karena itu kulabeli "brainstorming". Mau gimana lagi? Idenya datang juga sepotong-potong. Let's see kalau aku bisa merangkainya jadi cerita yang utuh suatu saat nanti. Apakah cerita di bawah ini adalah lanjutan cerita brainstorming yang lalu? Let's see then =D
...kemudian sampailah aku pada sebuah padang bunga yang indah. Bermacam-macam bunga aneka warna yang tak aku tahu namanya dengan bangga membuka kuncupnya lebar-lebar, memamerkan putik besar-besar mereka. Menyambut datangnya kupu-kupu dan benang sari...

Tapi bukan itu yang membuatku terpukau. Seseorang yang entah pria entah wanita menari berputar-putar di tengah padang. Pakaiannya longgar, mirip jubah dan berwarna sebiru langit. Selendang hijau transparannya berputar-putar dengan lincah di tangannya. Seperti sayap. Seperti air. Aku melihat sesuatu yang warna-warni berputar-putar di sekelilingnya. Seperti aliran cahaya pelangi. Baru kusadari kalau yang mengelilinginya itu kupu-kupu!
taken from phoenixlu.deviantart.com
Ia seperti baru melangkah keluar dari lukisan-lukisan cina yang pernah kulihat. Lukisan tentang bidadari turun dari kahyangan.

Kudekati sosok itu. Aku semakin tidak yakin apakah dia perempuan atau laki-laki. Wajahnya ditutupi oleh semacam cadar biru tipis (tetap saja mukanya jadi tidak jelas). Rambutnya panjang hitam sepunggung dan diikat, hingga aku merasa dia pasti perempuan. Tapi sosoknya yang jangkung tinggi membuatku berpikir, bisa jadi dia laki-laki. Lalu kuperhatikan lagi, tubuhnya yang ramping luar biasa. Itu pasti tubuh perempuan!

Ia masih terus menari berputar-putar. Kadang gerakannya lembut kemayu seperti kupu-kupu dipermainkan angin. Tapi mendadak ia bisa melompat lincah dan membuat gerakan seperti menendang dengan kecepatan dan kelenturan setara jago kungfu. Aduh, dia laki-laki atau perempuan ya? Kenapa aku yang pusing? Bagaimana kalau aku tanya langsung saja??? =_=

Pelan kudekati dia. Penari itu jelas menyadari kedatanganku karena ia menghentikan gerakannya. Tubuhnya yang menjulang berdiri di hadapanku. Leherku langsung pegal. Aku gugup luar biasa. Bagaimana kalau dia ternyata laki-laki???

Tapi 50 persen kemungkinannya dia perempuan! Agh!

"Hai."

Dia diam saja. Rupanya ia masih menungguku menyatakan alasan kenapa aku mengganggu kegiatannya. Aku masih gelisah. Tapi ia tak terlihat marah. Walau aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya yang ditutupi cadar, kalau marah dia pasti sudah mengusirku sejak awal kan?

"Ngg...kenapa kau terus menari berputar-putar begitu?" Aduh! Sedetik kemudian baru kusadari betapa tidak sopannya pertanyaanku. Mau menari kek, mau salto kek, memangnya itu urusanku? "Mmm...maksudku...bagaimana kau bisa menari tanpa musik?" aku menambahkan. Berharap bisa menambal pertanyaan konyolku tadi.

Ia tetap diam tak menjawab. Sementara kupu-kupu di sekelilingnya tetap berkepak-kepak di sekelilingnya. Semua seperti menatapku. Menuntutku. Aduh semoga dia tidak tersinggung! Tapi kemudian aku mendengarnya tertawa. Suaranya halus, enak didengar, tapi juga berat dan rendah. Entahlah, aku pusing mendeskripsikannya. HAH! Bahkan suara tawanya pun membuat identitas gendernya semakin kabur!

"Kelihatannya seperti menari ya?" ujarnya dengan suara yang tak jelas apakah itu perempuan atau laki-laki. "Tapi sebenarnya aku sedang melukis."

Aku bingung. Jelas-jelas dia menari. Atau "melukis" adalah istilah dunia ini untuk kegiatan "menari"?

Ia menjelaskan lagi. Tapi penjelasannya sama sekali tak membantu mengikis rasa bingungku. "Aku melukis dengan angin."

(Inspired from Pocahontas' song: Color of the wind)
also taken from someone's deviantart
Can you paint with all the colors of the wind?
Can you paint with all the colors of the wind
Rabu, 8 Februari 2012
Previous
Next Post »
Thanks for your comment

Google+ Followers